Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Januari 2009

Penanggulangan Pencemaran Laut Indonesia Untuk Merengkuh Kembali Kejayaan Negara Bahari

Masih seringkah kita menyanyikan lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”? Atau masih ingatkah kita akan kejayaan Indonesia pada zaman Sriwijaya maupun Majapahit yang berhasil direngkuh lewat kekuatan baharinya? Sepertinya kita telah melupakan semua itu bila kita melihat kenyataan saat ini. Banyak media yang memberitakan pencemaran tingkat tinggi terjadi di lautan Indonesia. Berita ini mencerminkan bahwa kita seolah-olah tidak lagi menghargai lautan sebagai kekayaan bangsa yang pernah mengantarkan bangsa kita pada kejayaan, bahkan cenderung menjadikannya tempat sampah! Sungguh tragis nasib lautan Indonesia.

Salah satu contoh pencemaran laut yang berimbas pada masyarakat daerah pesisir adalah pencemaran daerah pantai timur Surabaya. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa Air Susu Ibu para wanita di daerah itu mengandung kadmium sebanyak 36,1 ppm. Kandungan darah penduduk kawasan itu juga dinyatakan mengandung merkuri dan tembaga. Bahkan, kandungan tembaga dalam darah mereka berada di atas ambang batas yang ditentukan WHO (Ecoton, 2001). Tidak hanya daerah pantai timur Surabaya , air laut Teluk Jakarta juga dinyatakan telah terkontaminasi logam berat, termasuk merkuri dalam kadar cukup tinggi (Republika Online, 2004). Disadari atau tidak, hal ini merupakan ancaman bagi masa depan bangsa Indonesia. Ancaman ini disebabkan oleh bahaya logam berat seperti merkuri, kadmium, tembaga dan timbal sebagai pencemar yang dapat merusak otak, menurunkan daya ingat, melemahkan sistem syaraf, menghambat pertumbuhan dan perkembangan tubuh, menyebabkan cacat fisik, termasuk kerusakan ginjal dan berpengaruh negatif pada tulang. Selain itu, seperti pada penyakit Minamata, merkuri serta logam berat pencemar lain juga dapat merusak susunan gen sehingga diperkirakan penyakit yang ditimbulkan tersebut dapat menurun ke generasi berikutnya. (Republika Online, 2005).

Sebagaimana kita ketahui, Pantai Kenjeran dan Teluk Jakarta yang diketahui mengandung merkuri dan logam berat lain dalam kadar membahayakan tersebut terletak di 2 kota terbesar Indonesia, yaitu Surabaya dan Ibu Kota Jakarta, yang selain padat penduduk juga menjadi pusat pendidikan. Dapat kita bayangkan, apabila penduduk kedua kota tersebut terkena dampak pencemaran laut oleh logam berat yang menyebabkan kerusakan otak, mental dan fisik yang dapat diturunkan kepada generasi berikutnya, tentu dampaknya juga sangat besar bagi perkembangan Indonesia secara keseluruhan. Dampak negatif secara keseluruhan ini timbul karena banyaknya Sumber Daya Manusia (SDM) yang semestinya menjadi harapan bangsa berasal dari kedua kota tesebut. Belum lagi pencemaran laut kawasan lainnya, seperti Teluk Buyat, Perairan Laut Sulawesi Utara dan lain-lain yang juga tidak dapat diabaikan. Merkuri dan logam berat lain yang mencemari kawasan laut Indonesia tersebut, dalam jumlah kecil pun, dapat sangat berbahaya seperti pada kasus Teluk Minamata karena logam berat bersifat akumulatif di dalam tubuh organisme dan konsentrasinya mengalami peningkatan (biomagnifikasi) dalam tingkatan trofik yang lebih tinggi dalam rantai makanan (Wilson, 1988). Hal ini sungguh ironis dan bertolak belakang dengan zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, laut membawa bangsa kita pada kemakmuran dan kejayaan. Namun, sekarang, lautan dan keaneka ragaman hayatinya seperti ikan dan hewan laut lain, yang semestinya menjadi kekayaan bangsa, malah membawa ancaman keterpurukan bagi Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dan masa depan bangsa secara keseluruhan.

Uraian ancaman laut Indonesia serta sumber daya dan keaneka ragaman hayatinya yang sungguh ironis dengan fungsi laut pada zaman Kerajaan Sriwijaya maupun Majapahit dahulu patut kita cermati penyebabnya. Laut merupakan muara dari sungai beserta hulunya, mulai dari air pegunungan, sampai drainase penduduk. Jadi, langkah awal sebagai pencegahan pencemaran laut tentu dimulai dari sungai dan drainase penduduk. Pembuangan sampah sembarangan ke sungai dan drainase yang menyebabkan timbulnya pencemaran harus dicegah. Begitu pula buangan limbah industri yang harus memenuhi baku mutu limbah. Pemerintah harus mengambil langkah tegas untuk menindak pengusaha-pengusaha nakal yang tidak mematuhi aturan baku mutu limbah yang telah dibuat pemerintah serta penduduk yang tidak peduli akan kelestarian perairan .

Industri pertambangan, terutama pertambangan emas, diketahui juga turut berperan besar dalam menimbulkan pencemaran merkuri di lautan. Untuk itu, kita juga patut mencari solusi untuk mengatasi pencemaran merkuri yang disebabkan pertambangan, seperti kontaminasi merkuri di perairan Sulut, Teluk Buyat, Teluk Manado serta perairan sungai Kahayan yang juga berakhir ke laut, yang disebabkan oleh pertambangan emas.

Mengendalikan pencemaran merkuri di pertambangan emas yang bermuara ke lautan sebenarnya ada beberapa cara. Cara yang paling utama adalah dengan menggunakan pertambangan ramah lingkungan, yaitu pertambangan tertutup. Tahap berikutnya adalah menggunakan teknologi pemrosesan batuan tambang yang tidak menggunakan bahan merkuri, di antaranya dengan bahan sianida dan dengan cara bioteknologi yang disebut proses pencucian dengan mikroba. Mikroorganisme yang mengoksida batuan itu umumnya hidup pada bahan anorganik, di antaranya adalah Thiobacillus feroxidans. Beberapa tahun lalu peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil mengisolasi spesies itu di pertambangan emas Cikotok. Proses biologi ini banyak dipilih untuk mengolah biji atau batuan yang mempunyai kandungan sulfida yang tinggi karena biayanya lebih murah dibandingkan dengan cara mekanis, serta ramah lingkungan. Cara ini telah diterapkan AS, Cile dan beberapa negara lain.

Alternatif lain yang disebut fitoremediasi dengan menggunakan tumbuhan yang mampu menyerap logam berat juga ditempuh. Salah satu tumbuhan yang digunakan tersebut adalah pohon api-api (Avicennia marina). Pohon Api-api memiliki kemampuan akumulasi logam berat yang tinggi. Dari Penelitian yang dilakukan oleh Daru Setyo Rini Ssi (Peneliti madya Lembaga kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah-ECOTON), jenis Mangrove yang mendominasi Perairan Timur Pantai Surabaya ini memiliki sistem penanggulangan materi toksik yang berbeda, diantaranya dengan melemahkan efek racun melalui pengenceran (dilusi), yaitu dengan menyimpan banyak air untuk mengencerkan konsentrasi logam berat dalam jaringan tubuhnya sehingga mengurangi toksisitas logam tersebut. Ekskresi juga merupakan upaya yang mungkin terjadi, yaitu dengan menyimpan materi toksik logam berat dalam jaringan yang sudah tua seperti daun yang sudah tua dan kulit batang yang mudah mengelupas, sehingga dapat mengurangi konsentrasi logam berat di dalam tubuhnya. Metabolisme atau transformasi secara biologis (biotransformasi) logam berat dapat mengurangi toksisitas logam berat. Logam berat yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami pengikatan dan penurunan daya racun, karena diolah menjadi bentuk-bentuk persenyawaan yang lebih sederhana. Proses ini dibantu dengan aktivitas enzim yang mengatur dan mempercepat jalannya poses tersebut. Jenis ini dapat dikembangan sebagai benteng terakhir pengendalian Pencemaran Logam Berat di wilayah pesisir.

Mengatasi pencemaran merkuri dengan bakteri juga dimungkinkan karena diketahui ada bakteri yang dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang mengandung merkuri dalam jumlah tinggi. Bakteri itu adalah Pseudomonas fluorescens, Staphylococcus aureus, dan Bacillus sp. Hal ini dapat menginspirasi ahli biologi molekuler untuk memadukan fungsi gen beberapa bakteri hingga menghasilkan strain unggul untuk mengatasi pencemaran merkuri secara cepat dan efektif (Kompas, 2004).

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita lihat bahwa masalah pencemaran laut ini tidak lantas dibiarkan begitu saja tanpa ada solusi. Solusi yang dipaparkan melalui penjelasan di atas tersebut merupakan sebuah solusi yang masuk akal, menguntungkan dan tidak mustahil untuk dilakukan bangsa Indonesia, terlebih proses fitoremediasi yang alami serta relatif murah walaupun mungkin membutuhkan waktu yang agak lama. Cara lain seperti menghindari penggunaan merkuri pada pertambangan emas serta menggantikannya dengan sianida maupun penanggulangan dengan bakteri juga bukan merupakan hal yang mustahil untuk digunakan masyarakat penambang. Hal yang diperlukan saat ini hanyalah ketegasan pemerintah dalam mencanangkan peraturan, pemberian dukungan dalam pencegahan pencemaran untuk pemulihan keadaan perairan, baik dari segi pendanaan, motivasi maupun keterlibatan secara langsung, serta kerjasama pemerintah dengan para pengusaha dan masyarakat Indonesia dalam mencegah pencemaran air pada kawasan hulu yang merupakan salah satu penyebab utama pencemaran laut. Jadi, semuanya berangkat dari kemauan dan kerjasama seluruh komponen bangsa Indonesia. Masihkah kita ingin memperoleh kejayaan melalui kemegahan lautan Indonesia, bukannya malah ancaman melalui ketercemaran lautan bangsa? Pengoptimalan potensi kelautan yang akan membawa kejayaan Indonesia tidak akan pernah bisa terjadi bila pencemaran laut masih berlangsung. Oleh karena itu, mari kita mencegah dan mengatasi pencemaran laut Indonesia!

Rabu, 14 Januari 2009

Satu Hutan Buatan Untuk Tiap Pembangunan Satu Gedung Pencakar Langit, Mengapa Tidak?

Dalam beberapa waktu terakhir ini, wajah kota Surabaya tampaknya mengalami perubahan. Betapa tidak, Surabaya yang dahulu dikenal sebagai kota pahlawan, kini berubah menjadi kota yang dipenuhi gedung-gedung tinggi, termasuk mal-mal atau pusat perbelanjaan baru yang kini marak dibangun di mana-mana. Dalam beberapa bulan terakhir ini saja, kira-kira ada lebih dari 4 proyek pembangunan pusat perbelanjaan yang tersebar di kawasan Surabaya pusat, barat serta timur.


Surabaya, yang juga merupakan Ibukota Provinsi Jawa Timur, merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan julukan kota metropolitan, wajar bila kota Surabaya menjadi pusat perdagangan modern di kawasan Jawa Timur, bahkan juga merupakan salah satu pusat perdagangan Indonesia. Menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan, seperti disebutkan penulis pada awal tulisan, sebenarnya merupakan konsekuensi dari gabungan beberapa peran Kota Surabaya, yakni sebagai salah satu pusat perdagangan, kota metropolitan, Ibukota Provinsi serta kota terbesar kedua di Indonesia. Namun, sebagaimana dampak modernisasi lainnya, tentu saja hal ini juga membawa dampak negatif bagi kualitas lingkungan Surabaya. Contohnya, sebagaimana diketahui, pembangunan pusat perbelanjaan yang menjamur tentu saja juga memangkas keberadaan wilayah yang semestinya menjadi jalur hijau kota.

Terpangkasnya jalur hijau suatu kota akibat kemajuan zaman dapat mengakibatkan permasalahan kompleks. Selain masalah polusi udara, terpangkasnya jalur hijau suatu kota juga dapat mengakibatkan banjir. Dalam tulisan ini, penulis ingin lebih memusatkan perhatian pada permasalahn polusi udara, yang mungkin nanti juga sedikit menyinggung permasalahan banjir akibat hal ini. Pentingnya jalur hijau suatu kota ini, tak luput dari pengertian jalur hijau itu sendiri. Jalur hijau merupakan wilayah atau daerah yang semestinya ditanami pepohonan.

Pepohonan memiliki peran sangat penting dalam penanganan masalah lingkungan hidup manusia, termasuk pencemaran udara. Pepohonan dapat mengurangi konsentrasi CO2 di udara dengan cara mengikat CO2 tersebut sebagai bahan kebutuhan proses fotosintesis. Selain itu, beberapa jenis tumbuhan diketahui dapat mengurangi kadar CO di udara, seperti sansiviera sp. atau tumbuhan lidah mertua yang juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Dengan tingginya arus kendaraan bermotor serta aktivitas industri di Surabaya, tentu konsentrasi CO2 dan CO yang dilepas ke udara juga sangat besar. CO dan CO2 sendiri merupakan gas yang berbahaya bagi lingkungan, CO2, diketahui dapat merusak lapisan Ozon yang pada nantinya dapat menyebabkan pemanasan global. Sedangkan CO lebih berbahaya lagi, karena dapat secara langsung merusak organ tubuh manusia bila dihirup terus menerus dan terakumulasi dalam tubuh dalam jumlah cukup besar. Dari penjelasan ini, kita dapat mengetahui bahwa keberadaan pepohonan sangat dibutuhkan untuk meminimalisir berbagai bahaya polusi yang dapat mengancam kehidupan penduduk Surabaya.
Seperti dijelaskan sebelumnya, jalur hijau di Surabaya banyak yang terpangkas oleh kehadiran pembangunan pusat-pusat perbelanjaan baru di Surabaya. Lalu, bagaimana kita menyiasati hal ini? Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah Kota Surabaya mencanangkan program satu jiwa satu pohon. Maksudnya, untuk dapat mengurus akta kelahiran dengan lancar, orang tua setiap satu bayi yang baru lahir wajib menyerahkan satu tanaman untuk ditanam pemerintah kota. Lalu, mengapa pemerintah kota kita tidak mencoba mengaplikasikan program ini terhadap pembangunan pusat perbelanjaan? Jika dalam program satu jiwa satu pohon jumlah tanaman yang wajib diserahkan sesuai dengan jumlah bayi yang dilahirkan, dalam aplikasi program ini untuk pembangunan mal, jumlah tanaman tidak dihitung per batang, melainkan per luas tanah yang digunakan untuk membangun mal atau gedung pencakar langit baru yang akan dibangun. Dalam hal ini, penulis mengasumsikan jarak per tanaman pada setiap lahan adalah satu meter penanaman tanaman yang dalam tulisan ini diasumsikan penulis, setiap setengah meter ditanami satu pohon. Dengan lahan bebas yang hampir sudah tidak ada lagi di kota Surabaya ini, bagaimana solusi terbaiknya?

Salah satu alternatif yang ingin dikemukakan penulis dalam karya tulis ini adalah dengan menjadikan bagian paling atas atau atap gedung bertingkat sebagai hutan buatan. Atap gedung yang dibangun harus dimaksimalkan untuk penanaman tanaman hijau seperti akasia, cemara maupun palem dan beberapa tanaman hias seperti sansiviera yang memiliki fungsi meminimalisir pencemaran udara. Tanaman-tanaman tersebut ditata sedemikian rupa sehingga tetap dapat mendukung keindahan arsitektur gedung. Hutan buatan di atap gedung tersebut, memiliki fungsi yang sama dengan jalur hijau yang terpangkas akibat keberadaan gedung tersebut. Fungsi tersebut antara lain, mengurangi kadar CO2 di udara sehingga mendukung pencegahan pemanasan global, mengurangi kadar CO di udara, serta mengurangi prosentase kemungkinan terjadinya banjir karena sedikit banyak air hujan yang turun telah terserap terlebih dahulu sebelum jatuh ke jalan.

Untuk mendukung terwujudnya program ini, yang pertama kali harus bertindak, menurut penulis adalah pemerintah daerah. Seharusnya, melihat tingkat pencemaran udara yang semakin tinggi, pemerintah daerah segera menginstruksikan seluruh institusi pemilik gedung-gedung tinggi untuk segera merekonstruksi atap gedungnya menjadi hutan buatan tersebut. Selain itu, sebelum menginstruksikan hal tersebut, sebaiknya pemerintah menjalin komunikasi dengan para pemilik gedung dengan menjelaskan keuntungan rekonstruksi hutan buatan bagi masyarakat agar pemilik gedung tidak enggan mengeluarkan biaya untuk rekonstruksi tersebut.

Selanjutnya, bila pemilik proyek tidak mau mlaksanakan hal tersebut, pemerintah bisa memakai jalur perijinan, yaitu dengan mempersulit keluarnya IMB para pendiri bangunan tersebut. Jadi, bila mereka tidak mau mengadakan hutan di atas atap gedung mereka, boikot saja IMB-nya.

Alternatif lain, mengubah peraturan perundangan tentang IMB dengan menambahkan persyaratan pengadaan hutan di atas tiap gedung yang dibangun sebagai persyaratan perolehan IMB gedung tersebut. Menyelamatkan lingkungan memang butuh kecerdikan dalam memanfaatkan hukum untuk kepentingan positif serta kerjasama dan pengertian banyak pihak. Jadi, kerjasama antara masyarakat dan pemerintah serta investor untuk mengatasi masalah lingkungan memang sangat diperlukan.

ternyata aku dulu kreatif dan cerdas lho....(hahah,,nostalgia narsis)

wkwkwkw...setelah bongkar2 file jaman SMA...aku menemukan masterpiece yang bikin malu sekaligus bangga.

1. Bangga : karena gara2 masterpiece ini ak sukses nangkring di TL ITS tanpa bayar uang gedung. Masterpiece inilah yang membuatku juara 2 karya ilmiah tingkat SMA se Jawa Bali yang diadain TL. So, otomatis dengan mudahnya aku masuk TL lewat jalur PMDK prestasi.

2. Malu : Ya eyalah...secara ak masuk lewat pmdk prestasi gara2 karya tulis. Tapi sekarang?? Got nothing! Iya, aku gak menghasilkan apa2 selama jadi mahasiswa TL! Mandul karya! Gak ada lagi cerita produksi karya tulis mpe keliling kemana2 bwt presentasi! mana IP so standard! malah sekarang terkenal sebagai mahasiswi yang sebenernya cerdas tapi mbambet dan males serta teledornya minta ampun! 3 sifat yang telah bersahabat dengan jiwa ragaku tapi sebenernya ngancurin gw pelan2 ini (musuh bertopeng sahabat dalam selimut)!

Huh, untuk ke depannya, aku AKAN BERUSAHA JADI LEBH BAIK! FIGHT! AMIN..

btw, ini ni abstrak karya ilmiah jaman SMA ku dulu...


ABSTRAK

“ Pemanfaatan Botol Plastik Bekas Dalam Usaha Pengendalian Pencemaran Air dan Pengurangan Volume Sampah Plastik Melalui Sistem Fix Film ” oleh Syarifatun Nisa NF.

Disadari atau tidak, setiap aktifitas makhluk hidup selalu menghasilkan limbah cair yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan hidup. Sayangnya, hal ini tidak diikuti sistem pengolahan limbah cair yang baik sehingga negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, seringkali dihadapkan pada masalah kesehatan yang diakibatkan buruknya pengelolaan limbah cair. Masalah sampah yang terjadi di Indonesia tidak kalah berbahaya pula. Dari data yang diperoleh, sampah plastik yang tidak mudah terurai mikroorganisme telah banyak mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup. Oleh karena itu, dalam karya tulis ini, penulis mencoba menawarkan solusi dalam menghadapi kedua permasalahan tersebut, yaitu sistem fix film yang dapat mengendalikan pencemaran air sekaligus mengurangi volume sampah plastic.
Latar belakang karya tulis ini menimbulkan rumusan masalah sebagai berikut : 1. Limbah cair jenis apa saja yang dapat dikendalikan dan diolah dengan sistem fix film ini?, 2.Apakah sistem fix film dengan media botol plastik bekas ini dapat mengendalikan pencemaran air sekaligus mengurangi volume sampah plastik? serta 3. Apa kelebihan utama sistem fix film dengan media botol plastik bekas dalam mengolah limbah cair ?
Berdasarkan analisis data deskriptif kualitatif setelah mengumpulkan data dengan metode observasi, kajian pustaka dan wawancara, diperoleh hasil pembahasan yang menyatakan bahwa sistem fix film dengan media botol plastik bekas ini sangat baik digunakan untuk menunjang sistem pengolahan limbah cair rumah tangga yang telah memiliki sistem pengolahan limbah cair terpusat seperti yang terdapat di kota satelit, limbah air buangan manusia (tinja dan air kencing) yang dikelola IPLT khusus perusahaan sedot WC di lingkungan pemukiman yang memiliki sistem pengolahan limbah dengan sistem setempat, limbah cair industri kecil, limbah cair rumah sakit, perkantoran, serta industri pariwisata seperti hotel dan rumah makan.
Sistem fix film dengan media botol plastik bekas ini dapat mengendalikan pencemaran air karena terbukti dan teruji dapat mengolah limbah cair yang dihasilkan tempat atau instansi yang telah disebutkan. Di samping dapat mengolah limbah cair, sistem fix film ini juga dapat mengurangi volume sampah plastik dalam waktu yang bersamaan karena menggunakan media utama botol plastik bekas bervolume 50-100 ml.
Kelebihan sistem fix film dengan menggunakan media botol plastik bekas adalah lebih sedikitnya lahan yang akan digunakan untuk pengolahan apabila dibandingkan dengan sistem pond serta dapat menampung limbah cair dengan kapasitas yang lebih besar apabila digunakan pada sistem pengolahan limbah yang sudah ada. Selain itu, sistem fix film ini juga memiliki 2 fungsi ganda saat mengolah limbah cair, yaitu mengendalikan pencemaran air serta mengurangi volume sampah plastik.


Kata kunci : Pencemaran air, Limbah cair, Sampah, Sistem fix film, Botol plastik bekas.

lumayan keren kan untuk ukuran anak 3 sma? hehehe, narsis dikit boleh lah...

Duh, kapan yah bisa so smart kayak dulu lagi? Waktu jaman SMA dulu, ak juga gak kalah malesnya loh sama masa2 males kayak sekarang...tapi herannyah, masih aja bisa berprestasi walopun maleznya minta ampun!

Ajaib ya jaman dulu?? skarang kok gak lagi yah??

Otakku dulu... tak begini... (backsound: jinglenya iklan SCOTT's EMULSION)



Sabtu, 13 Desember 2008

Alternatif Bahan Bakar Biologis Baru : Ganggang

Sumber energi yang selama ini digunakan manusia di dunia, yaitu minyak bumi yang merupakan sumber energi berbasiskan fosil, semakin menipis. Sebentar lagi, harga minyak bumi diramalkan melambung. Sebagaimana kita ketahui, minyak bumi sebagi sumber energi juga memiliki banyak dampak negatif, salah satunya menimbulkan pencemaran udara yang gak main2 akibatnya bagi fisik makhluk hidup. Jadi, apakah kita harus terus menerus bergantung pada minyak bumi? Hanya bisa panik dan berdemonstrasi ketika harga minyak semakin meninggi, sementara yang kita perjuangkan itu sebenarnya lambat laun juga merusak lingkungan?
Oke, sekarang manusia dunia semakin kreatif. Ilmu pengetahuan semakin maju. Ada baiknya kita mengusahaka alternatif energi lain yang ramah lingkungan, juga muda didapat sehingga harganya murah... Berikut ini artikel tentang penemuan salah satu alternatif energi ramah lingkungan, yaitu ganggang.

Prof. Hein de Baar dari Universitas Groningen dan lembaga penelitian Belanda bernama Nederlands Instituut voor Onderzoek der Zee (NIOZ) meyakini bahwa ganggang sangat cocok untuk bahan bakar biologis. Ganggang mudah tumbuh di mana saja. Bahkan, sebagian besar biomassa di bumi ini dihasilkan oleh ganggang.

ganggang hijau


Ganggang menghasilkan sepuluh kali lebih banyak bahan bakar katimbang jagung atau biji-bijian lain. Selain itu ada beberapa keuntungan: ganggang mudah dikembangbiakkan, bukan makanan manusia dan bisa diproduksi tanpa menghasilkan CO2. Dalam beberapa tahun diharapkan mereka sudah bisa menghasilkan minyak ganggang.

Mudah Dikembangbiakkan
"Untuk bisa tumbuh, ganggang membutuhkan CO2, katakanlah semacam pupuknya. Artinya perkebunan ganggang akan membutuhkan amat banyak CO2. Dan itu bisa disalurkan dari cerobong asap sebuah pembangkit listrik, misalnya. CO2 ditangkap dan disalurkan ke tempat pembiakan ganggang di sebelah pusat listrik itu. Ganggang yang tumbuh subur bisa menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh pusat listrik tersebut. Nah, dengan demikian terbentuklah lingkaran produksi tanpa melepaskan CO2 ke udara", jelas Professor de Baar.

Hal ini menjelaskan sisi positif lain dari ganggang. CO2 sebagai salah satu gas hasil pernafasan makhluk hidup, yang juga memiliki trademark sebagai emisi bahan bakar bermotor maupun pabrik yang dapat menyebabkan efek rumah kaca, ternyata bisa menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai ekonomis berkat perannya sebagai semacam pupuk untuk calon bahan bakar yang diharapkan tidak lagi mahal dan memiliki potensi sangat kecil untuk mencemari lingkungan.

Dengan kata lain, penggunaan ganggang sebagai bahan bakar alternatif ini juga dapat meminimalisir efek rumah kaca. Dan itu berarti, penggunaan ganggang sebagai bahan bakar alternatif memiliki 2 peran yang sangat bersahabat dengan kondisi bumi :

1. Meminimalisir pencemaran udara karena tentu saja bahan bakar biologis tidak mengandung logam berat seperti timbal dan juga gas CO.

2. Meminimalisir global warming akibat efek rumah kaca.

Selain itu, ganggang juga memiliki kelebihan dibandingkan bahan bakar alternatif lain, seperti jagung. Keberatan utama terhadap bahan bakar biologis seperti jagung yang selama ini sudah digunakan beberapa negara adalah karena jagung juga merupakan bahan makanan manusia. Di Amerika Latin, harga jagung naik, karena ada persaingan antara jagung untuk dimakan dan jagung untuk dijadikan bahan bakar. Hal ini tidak berlaku bagi ganggang. "Ganggang bisa dikembangbiakkan di bejana-bejana besar tembus cahaya, diisi air, cukup udara dan kaya CO2, hanya itu yang dibutuhkan. Setelah beberapa saat air yang tadinya jernih menjadi semacam bubur hijau. Inilah yang bisa disaring dan dijadikan bahan bakar", demikian masa depan perkebunan ganggang menurut Professor de Baar.

Sebetulnya ide yang cukup sederhana bukan? Aku rasa, kita-kita yang sudah mengenal pelajaran biologi tentang ganggang dan berkutat di lab untuk mengetahui seluk beluk ganggang pun sebenarnya bisa. Mungkin, kita kurang peka dan kurang kreatif kali ya? Wah... bisa dijadikan bahan acuan untuk menemukan makin banyak bahan bakar alternatif lainnya kan? Ayo, ilmuwan ilmuwati Indonesia.. Mana nih inovasinya untuk menyelamatkan bumi kita tercinta ini? (menyeruka kepada diri sendiri juga, jadi malu ahhh...)


Oh ya, sebenernya, aku juga ada ide sih buat alternatif bahan bakar ramah lingkungan di masa depan, yaitu sisa nasi yang gak kepake atau yang sudah bisa. Kok bisa sisa nasi yang udah basi jadi bahan bakar alternatif? Ehm, sedikit penjelasan nih. Sisa nasi kan jelas mengandung karbohidrat, yang bisa dihidrolisis menjadi glukosa. Nah glukosa kan kalo difermentasi bisa juga jadi etanol tuh... Berarti, kesimpulannya, bisa jadi bahan bakar bioetanol yang minim kandungan Pb dan CO juga kan? Lebih baik menjadikan nasi sisa dan basi tersebut menjadi bahan bakar alternatif daripada dibuang sia2 trus jadi sampah basah. Setuju gak?

Ide tentang nasi sisa dijadiin calon bahan bakar ini udah aku ikutin pkm tuh...hehehe...doain disetujui dikti yah kawan2..=). Kalo nanti udah dapet dana. Penjabaran lebih lanjut tentang pnelitianku dan dua teman kuliahku di Teknik Lingkungan ini bakalan aku upload disini kok. Tenang aja.. So, pray the best for me, right? Hehehe.

Pray and Act for The Best Future of Our Earth.