Tampilkan postingan dengan label Blog Competition 2009 "Aku Untuk Negeriku". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blog Competition 2009 "Aku Untuk Negeriku". Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2009

Kisah Tentang Sebuah Aksi Kecil Untuk Menyelamatkan Lingkungan Indonesia dari Sampah

Lihatlah Samudera Hindia sebagai latar belakang foto yang saya ambil saat berlibur ke Pulau Sempu kemarin !
Indah, bersih, bening. Jauh dari kesan tercemar sebagaimana imej yang melekat pada banyak perairan di wilayah Indonesia. Kebetulan, saya dan teman saya sudah menganalisis. Apa ini ada hubungannya dengan sedikitnya aktivitas manusia di sekitar wilayah Samudera Hindia (wilayah Samudera Hindia yang dimaksud di sini hanya wilayah Samudera Hindia di daerah itu) di balik karang yang mengelilingi Pulau Sempu (yang juga tidak berpenghuni) tersebut? Hm...sesuai sekali dengan asal usul mayoritas pencemaran yang selama ini saya pelajari di kampus, yaitu aktivitas manusia. Ya, aktivitas manusia merupakan penyebab utama segala bentuk pencemaran yang terjadi di permukaan bumi.
Begitu juga dengan Pantai Segoro Anakan yang terletak di sisi lain karang tempat saya berfoto itu. Pantai Segoro Anakan yang mulai ramai pengunjung yang camping di atas hamparan pasir putih pantai tersebut mulai tercemar. Buktinya, ketika saya dan teman-teman mau wudhu di pantai, kami mendapati bungkus-bungkus mi instan berserakan terombang-ambing di tepi pantai. Teman saya, Boby, yang pecinta alam sejati, langsung mengumpat dalam bahasa dan dialek khas Suroboyoan kala mengetahui keadaan itu. Begini kira-kira kata-kata Boby kalo diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Dasar manusia goblok! Tempat bagus-bagus kayak gini dirusak juga! Tau gitu, tempat bagus kayak gini seharusnya gak ditunjukin ke orang-orang kalo akhirnya cuma dirusak!”
Si Fajrin yang asli Jakarta ikut-ikutan ngomel pake dialek Jakartanya.
Iya nih.. Wah..Dasar manusia.. Bisanya cuma merusak aja...”
Hebatnya, teman-teman saya itu tidak hanya mengumpat dan mengomel. Mereka langsung mengomando kami ber-6 untuk bersama-sama mengambil sejumlah bungkus mi instan dan sampah-sampah plastik di sekitar pantai itu. Begitu pula sampah-sampah lain yang ada di jangkauan mata kami, untuk selanjutnya kami masukkan ke tas kresek. Kemudian, kresek berisi sampah-sampah itu kami simpan hingga esok harinya, ketika kami pulang, untuk kami bawa keluar dari Pulau Sempu dan kami buang di tempat sampah yang ada di sekitar Sendang Biru (pantai di seberang Pulau Sempu yang sudah masuk daratan Kabupaten Malang).
Terlihat sebagai sebuah aksi yang sangat sederhana memang. Tapi, bila mengingat perjalanan keluar dari Pulau Sempu yang tidak bisa dibilang lempeng-lempeng saja, berjalan kaki selama +/- 1,5 jam dengan membawa kantong kresek lumayan besar berisi sampah hanya untuk membuangnya ke tempat sampah yang cukup jauh dari lokasi asal sampah itu, bisa dibilang suatu hal hebat. Ya, sesuatu yang hebat memang harus dimulai dari hal yang kecil. Andai saja setiap orang di Indonesia punya jiwa pecinta alam sejati seperti Boby dan Fajrin, betapa indahnya Indonesia. Takkan ada lagi cerita tentang negara Indonesia yang masuk peringkat 10 atau 20 besar negara tercemar, maupun salah satu kota di Indonesia yang masuk peringkat kota terpolusi, seperti Jakarta yang mendapat ‘gelar’ kota terpolusi nomor 3 di dunia. Bagaimana tidak, jangankan membawa sampah keluar pulau melalui jalan berliku-liku dengan tanjakkan naik turun dan tanah becek, untuk menyimpan bungkus bekas makanan kecil atau plastik bekas tempat es beberapa saat hingga menemukan tempat sampah saja, rasanya belum membudaya di masyarakat Indonesia. Mereka memilih tidak mau bersusah payah mengantongi atau menyimpan sementara bungkus tersebut dan membuangnya begitu saja di atas tanah atau lebih parahnya, di selokan. Padahal, letak tempat sampah di sekitar situ gak terlalu jauh.
Tentang kebiasaan jelek masyarakat Indonesia yang egois terhadap lingkungan itu, saya jadi teringat sebuah kisah nih. Ketika itu, saya sedang nongkrong sambil minum es teh dalam bungkus plastik bersama seorang teman dari jurusan lain di depan kos teman saya itu. Sambil ngobrol sana-sini, tak terasa es teh dalam plastik itu telah saya minum hingga habis. Secara reflek, bungkusnya saya lipat-lipat dan saya masukkan kantong celana saya. Teman saya dari jurusan Teknik Geomatika (maap, sebut jurusan nih, hehehehe) itu langsung menegur (tapi bukan kategori menegur yang baik),
Teman Saya (TS) :“ Duh... anak Teknik Lingkungan mesti kayak gini. Dih..”
Saya: (heran) ”Apaan? Ngantongin plastik bekas es teh ini?”
TS: ”Iya, kok doyan sih ngantongin sampah bungkus makanan kayak gitu (dengan raut muka jijik). Buang aja langsung ke sini aja napa... (menunjuk ke arah selokan yang terletak tepat di samping tempat kita nongkrong).”
Saya: (langsung nyemprot berapi-api) “Eh…enak aja! Yang kayak gini ni..yang bikin Indonesia kena banjir mulu! Payah ah, orang Geomatika kan seharusnya juga mencegah dan mengatasi bencana. E..kamu malah jadi salah satu penyebab bencana! Lebih baik jorok sebentar daripada ngerusak lingkungan!”
Ts : (cuma tersenyum kalem setelah saya semprot)

Hmm.. itulah sekelumit pengalaman saya tentang secuil perbuatan yang mungkin bila dilakukan banyak orang, akan bermanfaat sangat besar. Ya, sekali lagi, sesuatu yang besar, yang hebat, harus dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita, termasuk menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan Indonesia! Semoga dapat menginspirasi semua yang membaca agar lingkungan Indonesia dan bumi kita menjadi lebih baik! Amin...

Senin, 26 Januari 2009

Penanggulangan Pencemaran Laut Indonesia Untuk Merengkuh Kembali Kejayaan Negara Bahari

Masih seringkah kita menyanyikan lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”? Atau masih ingatkah kita akan kejayaan Indonesia pada zaman Sriwijaya maupun Majapahit yang berhasil direngkuh lewat kekuatan baharinya? Sepertinya kita telah melupakan semua itu bila kita melihat kenyataan saat ini. Banyak media yang memberitakan pencemaran tingkat tinggi terjadi di lautan Indonesia. Berita ini mencerminkan bahwa kita seolah-olah tidak lagi menghargai lautan sebagai kekayaan bangsa yang pernah mengantarkan bangsa kita pada kejayaan, bahkan cenderung menjadikannya tempat sampah! Sungguh tragis nasib lautan Indonesia.

Salah satu contoh pencemaran laut yang berimbas pada masyarakat daerah pesisir adalah pencemaran daerah pantai timur Surabaya. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa Air Susu Ibu para wanita di daerah itu mengandung kadmium sebanyak 36,1 ppm. Kandungan darah penduduk kawasan itu juga dinyatakan mengandung merkuri dan tembaga. Bahkan, kandungan tembaga dalam darah mereka berada di atas ambang batas yang ditentukan WHO (Ecoton, 2001). Tidak hanya daerah pantai timur Surabaya , air laut Teluk Jakarta juga dinyatakan telah terkontaminasi logam berat, termasuk merkuri dalam kadar cukup tinggi (Republika Online, 2004). Disadari atau tidak, hal ini merupakan ancaman bagi masa depan bangsa Indonesia. Ancaman ini disebabkan oleh bahaya logam berat seperti merkuri, kadmium, tembaga dan timbal sebagai pencemar yang dapat merusak otak, menurunkan daya ingat, melemahkan sistem syaraf, menghambat pertumbuhan dan perkembangan tubuh, menyebabkan cacat fisik, termasuk kerusakan ginjal dan berpengaruh negatif pada tulang. Selain itu, seperti pada penyakit Minamata, merkuri serta logam berat pencemar lain juga dapat merusak susunan gen sehingga diperkirakan penyakit yang ditimbulkan tersebut dapat menurun ke generasi berikutnya. (Republika Online, 2005).

Sebagaimana kita ketahui, Pantai Kenjeran dan Teluk Jakarta yang diketahui mengandung merkuri dan logam berat lain dalam kadar membahayakan tersebut terletak di 2 kota terbesar Indonesia, yaitu Surabaya dan Ibu Kota Jakarta, yang selain padat penduduk juga menjadi pusat pendidikan. Dapat kita bayangkan, apabila penduduk kedua kota tersebut terkena dampak pencemaran laut oleh logam berat yang menyebabkan kerusakan otak, mental dan fisik yang dapat diturunkan kepada generasi berikutnya, tentu dampaknya juga sangat besar bagi perkembangan Indonesia secara keseluruhan. Dampak negatif secara keseluruhan ini timbul karena banyaknya Sumber Daya Manusia (SDM) yang semestinya menjadi harapan bangsa berasal dari kedua kota tesebut. Belum lagi pencemaran laut kawasan lainnya, seperti Teluk Buyat, Perairan Laut Sulawesi Utara dan lain-lain yang juga tidak dapat diabaikan. Merkuri dan logam berat lain yang mencemari kawasan laut Indonesia tersebut, dalam jumlah kecil pun, dapat sangat berbahaya seperti pada kasus Teluk Minamata karena logam berat bersifat akumulatif di dalam tubuh organisme dan konsentrasinya mengalami peningkatan (biomagnifikasi) dalam tingkatan trofik yang lebih tinggi dalam rantai makanan (Wilson, 1988). Hal ini sungguh ironis dan bertolak belakang dengan zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, laut membawa bangsa kita pada kemakmuran dan kejayaan. Namun, sekarang, lautan dan keaneka ragaman hayatinya seperti ikan dan hewan laut lain, yang semestinya menjadi kekayaan bangsa, malah membawa ancaman keterpurukan bagi Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dan masa depan bangsa secara keseluruhan.

Uraian ancaman laut Indonesia serta sumber daya dan keaneka ragaman hayatinya yang sungguh ironis dengan fungsi laut pada zaman Kerajaan Sriwijaya maupun Majapahit dahulu patut kita cermati penyebabnya. Laut merupakan muara dari sungai beserta hulunya, mulai dari air pegunungan, sampai drainase penduduk. Jadi, langkah awal sebagai pencegahan pencemaran laut tentu dimulai dari sungai dan drainase penduduk. Pembuangan sampah sembarangan ke sungai dan drainase yang menyebabkan timbulnya pencemaran harus dicegah. Begitu pula buangan limbah industri yang harus memenuhi baku mutu limbah. Pemerintah harus mengambil langkah tegas untuk menindak pengusaha-pengusaha nakal yang tidak mematuhi aturan baku mutu limbah yang telah dibuat pemerintah serta penduduk yang tidak peduli akan kelestarian perairan .

Industri pertambangan, terutama pertambangan emas, diketahui juga turut berperan besar dalam menimbulkan pencemaran merkuri di lautan. Untuk itu, kita juga patut mencari solusi untuk mengatasi pencemaran merkuri yang disebabkan pertambangan, seperti kontaminasi merkuri di perairan Sulut, Teluk Buyat, Teluk Manado serta perairan sungai Kahayan yang juga berakhir ke laut, yang disebabkan oleh pertambangan emas.

Mengendalikan pencemaran merkuri di pertambangan emas yang bermuara ke lautan sebenarnya ada beberapa cara. Cara yang paling utama adalah dengan menggunakan pertambangan ramah lingkungan, yaitu pertambangan tertutup. Tahap berikutnya adalah menggunakan teknologi pemrosesan batuan tambang yang tidak menggunakan bahan merkuri, di antaranya dengan bahan sianida dan dengan cara bioteknologi yang disebut proses pencucian dengan mikroba. Mikroorganisme yang mengoksida batuan itu umumnya hidup pada bahan anorganik, di antaranya adalah Thiobacillus feroxidans. Beberapa tahun lalu peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil mengisolasi spesies itu di pertambangan emas Cikotok. Proses biologi ini banyak dipilih untuk mengolah biji atau batuan yang mempunyai kandungan sulfida yang tinggi karena biayanya lebih murah dibandingkan dengan cara mekanis, serta ramah lingkungan. Cara ini telah diterapkan AS, Cile dan beberapa negara lain.

Alternatif lain yang disebut fitoremediasi dengan menggunakan tumbuhan yang mampu menyerap logam berat juga ditempuh. Salah satu tumbuhan yang digunakan tersebut adalah pohon api-api (Avicennia marina). Pohon Api-api memiliki kemampuan akumulasi logam berat yang tinggi. Dari Penelitian yang dilakukan oleh Daru Setyo Rini Ssi (Peneliti madya Lembaga kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah-ECOTON), jenis Mangrove yang mendominasi Perairan Timur Pantai Surabaya ini memiliki sistem penanggulangan materi toksik yang berbeda, diantaranya dengan melemahkan efek racun melalui pengenceran (dilusi), yaitu dengan menyimpan banyak air untuk mengencerkan konsentrasi logam berat dalam jaringan tubuhnya sehingga mengurangi toksisitas logam tersebut. Ekskresi juga merupakan upaya yang mungkin terjadi, yaitu dengan menyimpan materi toksik logam berat dalam jaringan yang sudah tua seperti daun yang sudah tua dan kulit batang yang mudah mengelupas, sehingga dapat mengurangi konsentrasi logam berat di dalam tubuhnya. Metabolisme atau transformasi secara biologis (biotransformasi) logam berat dapat mengurangi toksisitas logam berat. Logam berat yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami pengikatan dan penurunan daya racun, karena diolah menjadi bentuk-bentuk persenyawaan yang lebih sederhana. Proses ini dibantu dengan aktivitas enzim yang mengatur dan mempercepat jalannya poses tersebut. Jenis ini dapat dikembangan sebagai benteng terakhir pengendalian Pencemaran Logam Berat di wilayah pesisir.

Mengatasi pencemaran merkuri dengan bakteri juga dimungkinkan karena diketahui ada bakteri yang dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang mengandung merkuri dalam jumlah tinggi. Bakteri itu adalah Pseudomonas fluorescens, Staphylococcus aureus, dan Bacillus sp. Hal ini dapat menginspirasi ahli biologi molekuler untuk memadukan fungsi gen beberapa bakteri hingga menghasilkan strain unggul untuk mengatasi pencemaran merkuri secara cepat dan efektif (Kompas, 2004).

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita lihat bahwa masalah pencemaran laut ini tidak lantas dibiarkan begitu saja tanpa ada solusi. Solusi yang dipaparkan melalui penjelasan di atas tersebut merupakan sebuah solusi yang masuk akal, menguntungkan dan tidak mustahil untuk dilakukan bangsa Indonesia, terlebih proses fitoremediasi yang alami serta relatif murah walaupun mungkin membutuhkan waktu yang agak lama. Cara lain seperti menghindari penggunaan merkuri pada pertambangan emas serta menggantikannya dengan sianida maupun penanggulangan dengan bakteri juga bukan merupakan hal yang mustahil untuk digunakan masyarakat penambang. Hal yang diperlukan saat ini hanyalah ketegasan pemerintah dalam mencanangkan peraturan, pemberian dukungan dalam pencegahan pencemaran untuk pemulihan keadaan perairan, baik dari segi pendanaan, motivasi maupun keterlibatan secara langsung, serta kerjasama pemerintah dengan para pengusaha dan masyarakat Indonesia dalam mencegah pencemaran air pada kawasan hulu yang merupakan salah satu penyebab utama pencemaran laut. Jadi, semuanya berangkat dari kemauan dan kerjasama seluruh komponen bangsa Indonesia. Masihkah kita ingin memperoleh kejayaan melalui kemegahan lautan Indonesia, bukannya malah ancaman melalui ketercemaran lautan bangsa? Pengoptimalan potensi kelautan yang akan membawa kejayaan Indonesia tidak akan pernah bisa terjadi bila pencemaran laut masih berlangsung. Oleh karena itu, mari kita mencegah dan mengatasi pencemaran laut Indonesia!

Sebuah Usul Untuk Pemerintah Bila Suatu Saat Merasa Perlu Untuk Menaikkan Harga BBM (Lagi).

Postingan ini saya buat untuk jaga-jaga bila suatu hari harga BBM (Bahan Bakar Minyak) naik lagi. Jika harga BBM naik, jelas sekali banyak masyarakat yang mengeluh. Terutama masyarakat kecil yang berprofesi sebagai sopir bemo, sopir taksi, bus kota atau yang lainnya, yang profesinya bersinggungan dengan BBM. Tulisan ini saya buat berdasarkan ingatan saya akan sebuah perjalanan naik bemo ketika harga BBM sedang naik-naiknya.

Ketika itu, saya masih SMA. Saat saya naik bemo menuju sekolah saya di Surabaya dari rumah saya di Kota Gresik, saya terlibat percakapan dengan seorang sopir bemo jurusan Surabaya-Gresik yang saya tumpangi. Hati saya trenyuh ketika mendengar si sopir tersebut bercerita bahwa sejak BBM naik, uangnya sering habis hanya untuk membeli BBM bemonya. Hal ini tidak saya alami satu kali, tapi beberapa kali. Itu hanya sepersekian cerita tentang penderitaan masyarakat akibat naiknya BBM. Tentu saja, bukan hanya para sopir bemo yang mengalami kesusahan tersebut. Para anak sekolah seperti saya, beserta para orangtua, yang belum tentu kaya, mengeluh putus asa ketika BBM diputuskan naik dan mempengaruhi begitu banyak sektor kehidupan. Selain itu, banyak berita di koran yang mewartakan pertengkaran akibat naiknya BBM.

BBM.. BBM.. Rasanya, bila dipikir-pikir, kok ironis ya? Bukankah Negara Indonesia terkenal akan kekayaan alamnya, termasuk minyak? Kok bisa ya negara yang sebenarnya memiliki kekayaan minyak alami mengalami kelangkaan BBM dan berbagai kekacauan akibat naiknya BBM? Sementara itu, banyak sekali sumber minyak kita yang malah disewakan kepada pihak asing. Lho ?? Apa-apaan ini ? Anehnya, pemerintah Indonesia tetap bergeming. Mereka beralasan bahwa kenaikan BBM juga demi rakyat. Ada subsidi silang (saat itu) yang akan menyejahterakan masyarakat miskin sebesar 100.000 per bulan. Tapi, praktiknya, masih banyak masyarakat mengomel, bertengkar karena tidak kebagian subsidi BBM. Apabila dilogika, 100.000 ribu per bulan bagi seorang sopir bemo tentu tidak cukup untuk mengisi bemonya dengan bensin sebesar 5 liter untuk 10 hari lebih. Dan yang lebih ironis, para bapak dan ibu DPR kita malah asyik ribut minta jatah mobil dinas dengan harga 100 juta lebih. Lho?? (terbelalak kaget ketika membaca berita tentang pertengkaran rakyat akibat BBM dan keributan para wakil rakyat meminta jatah mobil dalam satu koran, hanya beda halaman beberapa saat lalu ketika BBM naik lagi hot-hotnya). Para wakil rakyat seolah tak peduli harga BBM naik. Padahal di luar gedung DPR sana, masyarakat malah berusaha mengirit dan menyimpan kendaraan motornya demi hemat BBM. Dengan cara itupun, mereka masih tercekik oleh melonjaknya tarif kendaraan umum. Hmm..mungkin bapak dan ibu DPR kita masih banyak uang untuk beli BBM kali ya? Mungkin mereka melihat berita kenaikan BBM sekilas dan berkata,” BBM naik ? So what ?? Gue kan lagi banyak duit…”

Melihat ilustrasi di atas, timbul sebuah ide yang tiba-tiba muncul dalam benak saya. Bagaimana jika suatu hari pemerintah merasa perlu menaikkan harga BBM, kenaikan harga BBM tersebut hanya diperuntukkan bagi mobil berharga 50 juta ke atas ? Atau kalau perlu, untuk seluruh mobil pribadi tanpa melibatkan kendaraan umum. Jadi, kendaraan umum membeli harga BBM dengan harga normal. Dan, bagaimana kalau kenaikan tersebut sebesar 250 % atau lebih dari harga normal sebelum kenaikan BBM? Yang jelas, persentase kenaikan tersebut didasarkan pada jumlah yang cukup untuk menyetarakan naiknya harga BBM internasional atau hingga jumlah yang cukup untuk menyubsidi silang masyarakat tidak mampu dengan sejumlah uang yang sangat layak untuk penghidupan. Bukankah pemerintah juga berdalih kenaikan harga BBM diakibatkan naiknya harga BBM internasional yang menuntut pemerintah mau tidak mau harus menyamakan harga nasional?? Bukankan pula dulu pemerintah juga pernah berdalih kenaikan BBM untuk menyubsidi silang masyarakat tidak mampu? Lagipula, bukankah banyaknya kendaraan pribadi di jalan raya kota merupakan penyebab naiknya tingkat kemacetan dan polusi udara ? Padahal, kalau kita amati jalan besar di tengah kota, mobil-mobil mewah berkeliaran di mana-mana dan mengakibatkan kemacetan di sana-sini.

Hmm.. Bukankah ide saya tersebut yang lebih mewakili apa yang disebut subsidi silang rakyat kaya terhadap masyarakat miskin? Dan mungkin, ide saya tersebut menyebabkan bapak ibu DPR dan masyarakat menengah ke atas lainnya berpikir dua kali untuk mengedarai mobil pribadi nan mewah mereka, sehingga jalan kota bebas macet, polusi menurun, dan rezeki para sopir kendaraan umum akan bertambah. Kalau mereka masih nekat karena banyaknya uang yang mereka miliki, ide saya juga masih sangat berguna. Pemerintah masih dapat memenuhi harga BBM internasional, malah berlebih. Dan kelebihan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membiayai masyarakat menengah ke bawah, bukan ? Asal tidak dikorupsi saja.. Jadi, saya hanya menghimbau kepada para pemerintah, semoga ide saya ini bisa dipertimbangkan baik-baik jika suatu saat pemerintah merasa perlu menaikkan harga BBM lagi. Kalau bapak atau ibu pemerintah mau bukti atas latar belakang ide saya, silakan sering-sering naik bemo dan duduk di samping sopir…

Rabu, 14 Januari 2009

Satu Hutan Buatan Untuk Tiap Pembangunan Satu Gedung Pencakar Langit, Mengapa Tidak?

Dalam beberapa waktu terakhir ini, wajah kota Surabaya tampaknya mengalami perubahan. Betapa tidak, Surabaya yang dahulu dikenal sebagai kota pahlawan, kini berubah menjadi kota yang dipenuhi gedung-gedung tinggi, termasuk mal-mal atau pusat perbelanjaan baru yang kini marak dibangun di mana-mana. Dalam beberapa bulan terakhir ini saja, kira-kira ada lebih dari 4 proyek pembangunan pusat perbelanjaan yang tersebar di kawasan Surabaya pusat, barat serta timur.


Surabaya, yang juga merupakan Ibukota Provinsi Jawa Timur, merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan julukan kota metropolitan, wajar bila kota Surabaya menjadi pusat perdagangan modern di kawasan Jawa Timur, bahkan juga merupakan salah satu pusat perdagangan Indonesia. Menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan, seperti disebutkan penulis pada awal tulisan, sebenarnya merupakan konsekuensi dari gabungan beberapa peran Kota Surabaya, yakni sebagai salah satu pusat perdagangan, kota metropolitan, Ibukota Provinsi serta kota terbesar kedua di Indonesia. Namun, sebagaimana dampak modernisasi lainnya, tentu saja hal ini juga membawa dampak negatif bagi kualitas lingkungan Surabaya. Contohnya, sebagaimana diketahui, pembangunan pusat perbelanjaan yang menjamur tentu saja juga memangkas keberadaan wilayah yang semestinya menjadi jalur hijau kota.

Terpangkasnya jalur hijau suatu kota akibat kemajuan zaman dapat mengakibatkan permasalahan kompleks. Selain masalah polusi udara, terpangkasnya jalur hijau suatu kota juga dapat mengakibatkan banjir. Dalam tulisan ini, penulis ingin lebih memusatkan perhatian pada permasalahn polusi udara, yang mungkin nanti juga sedikit menyinggung permasalahan banjir akibat hal ini. Pentingnya jalur hijau suatu kota ini, tak luput dari pengertian jalur hijau itu sendiri. Jalur hijau merupakan wilayah atau daerah yang semestinya ditanami pepohonan.

Pepohonan memiliki peran sangat penting dalam penanganan masalah lingkungan hidup manusia, termasuk pencemaran udara. Pepohonan dapat mengurangi konsentrasi CO2 di udara dengan cara mengikat CO2 tersebut sebagai bahan kebutuhan proses fotosintesis. Selain itu, beberapa jenis tumbuhan diketahui dapat mengurangi kadar CO di udara, seperti sansiviera sp. atau tumbuhan lidah mertua yang juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Dengan tingginya arus kendaraan bermotor serta aktivitas industri di Surabaya, tentu konsentrasi CO2 dan CO yang dilepas ke udara juga sangat besar. CO dan CO2 sendiri merupakan gas yang berbahaya bagi lingkungan, CO2, diketahui dapat merusak lapisan Ozon yang pada nantinya dapat menyebabkan pemanasan global. Sedangkan CO lebih berbahaya lagi, karena dapat secara langsung merusak organ tubuh manusia bila dihirup terus menerus dan terakumulasi dalam tubuh dalam jumlah cukup besar. Dari penjelasan ini, kita dapat mengetahui bahwa keberadaan pepohonan sangat dibutuhkan untuk meminimalisir berbagai bahaya polusi yang dapat mengancam kehidupan penduduk Surabaya.
Seperti dijelaskan sebelumnya, jalur hijau di Surabaya banyak yang terpangkas oleh kehadiran pembangunan pusat-pusat perbelanjaan baru di Surabaya. Lalu, bagaimana kita menyiasati hal ini? Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah Kota Surabaya mencanangkan program satu jiwa satu pohon. Maksudnya, untuk dapat mengurus akta kelahiran dengan lancar, orang tua setiap satu bayi yang baru lahir wajib menyerahkan satu tanaman untuk ditanam pemerintah kota. Lalu, mengapa pemerintah kota kita tidak mencoba mengaplikasikan program ini terhadap pembangunan pusat perbelanjaan? Jika dalam program satu jiwa satu pohon jumlah tanaman yang wajib diserahkan sesuai dengan jumlah bayi yang dilahirkan, dalam aplikasi program ini untuk pembangunan mal, jumlah tanaman tidak dihitung per batang, melainkan per luas tanah yang digunakan untuk membangun mal atau gedung pencakar langit baru yang akan dibangun. Dalam hal ini, penulis mengasumsikan jarak per tanaman pada setiap lahan adalah satu meter penanaman tanaman yang dalam tulisan ini diasumsikan penulis, setiap setengah meter ditanami satu pohon. Dengan lahan bebas yang hampir sudah tidak ada lagi di kota Surabaya ini, bagaimana solusi terbaiknya?

Salah satu alternatif yang ingin dikemukakan penulis dalam karya tulis ini adalah dengan menjadikan bagian paling atas atau atap gedung bertingkat sebagai hutan buatan. Atap gedung yang dibangun harus dimaksimalkan untuk penanaman tanaman hijau seperti akasia, cemara maupun palem dan beberapa tanaman hias seperti sansiviera yang memiliki fungsi meminimalisir pencemaran udara. Tanaman-tanaman tersebut ditata sedemikian rupa sehingga tetap dapat mendukung keindahan arsitektur gedung. Hutan buatan di atap gedung tersebut, memiliki fungsi yang sama dengan jalur hijau yang terpangkas akibat keberadaan gedung tersebut. Fungsi tersebut antara lain, mengurangi kadar CO2 di udara sehingga mendukung pencegahan pemanasan global, mengurangi kadar CO di udara, serta mengurangi prosentase kemungkinan terjadinya banjir karena sedikit banyak air hujan yang turun telah terserap terlebih dahulu sebelum jatuh ke jalan.

Untuk mendukung terwujudnya program ini, yang pertama kali harus bertindak, menurut penulis adalah pemerintah daerah. Seharusnya, melihat tingkat pencemaran udara yang semakin tinggi, pemerintah daerah segera menginstruksikan seluruh institusi pemilik gedung-gedung tinggi untuk segera merekonstruksi atap gedungnya menjadi hutan buatan tersebut. Selain itu, sebelum menginstruksikan hal tersebut, sebaiknya pemerintah menjalin komunikasi dengan para pemilik gedung dengan menjelaskan keuntungan rekonstruksi hutan buatan bagi masyarakat agar pemilik gedung tidak enggan mengeluarkan biaya untuk rekonstruksi tersebut.

Selanjutnya, bila pemilik proyek tidak mau mlaksanakan hal tersebut, pemerintah bisa memakai jalur perijinan, yaitu dengan mempersulit keluarnya IMB para pendiri bangunan tersebut. Jadi, bila mereka tidak mau mengadakan hutan di atas atap gedung mereka, boikot saja IMB-nya.

Alternatif lain, mengubah peraturan perundangan tentang IMB dengan menambahkan persyaratan pengadaan hutan di atas tiap gedung yang dibangun sebagai persyaratan perolehan IMB gedung tersebut. Menyelamatkan lingkungan memang butuh kecerdikan dalam memanfaatkan hukum untuk kepentingan positif serta kerjasama dan pengertian banyak pihak. Jadi, kerjasama antara masyarakat dan pemerintah serta investor untuk mengatasi masalah lingkungan memang sangat diperlukan.